Assalamualaikum
wr.wb.
Pertama-tama
perkenankan saya atas nama Komite Sekolah SMP Negeri 1 Sendana, menyampaikan
penghargaan kepada Ketua Panitia Pelaksana, Acara Perpisahan ini, beserta
seluruh siswa/siswi Kelas III, Para guru, dan Bapak Kepala sekolah yang telah
memberikan perhatian dan persiapannya, sehingga kegiatan ini dapat terlaksana
dengan baik…sekali lagi terima kasih.
Para hadirin sekalian…
Sebagai Ketua
Komite SMP Negeri 1 Sendana, izinkan saya menyampaikan beberapa hal yang saya
pikir, perlu saya sampaikan pada kesempatan yang sangat baik ini, khususnya
mengenai pelaksanaan UN yang telah dilaksanakan beberapa saat yang lalu.
Pertama, dasar
pelaksanaan UN ini, salah satunya untuk mengukur kompetensi sekolah,
berbicara tentang kompetensi sekolah,
tentu ada beberapa tolok ukur yang bisa dijadikan dasar keberhasilan satu
sekolah; Antara lain sarana dan prasarana sekolah, ketersediaan buku, kemampuan
para guru dan daya serap siswa siswi itu sendiri.
Namun UN sebagai penentu tingkat
kompetensi sekolah, hanya menelan satu korban, hanya para siswa, tidak ada guru
yang dikenakan sanksi atas ketidak berhasilan ini, tidak ada evaluasi
menyeluruh tentang kebutuhan buku paket, apa sudah mencukupi atau satu buku
paket digunakan oleh 10 hingga 20 orang siswa, sehingga mereka tidak maksimal
menyerap pesan dan isi buku, tidak ada evaluasi tentang ketercukupan sarana
maupun prasarana sekolah, sekali lagi vonis atas tidak berhasilnya satu
sekolah, hanyalah menelan satu korban…hanya para siswa.
Ini sangat
tidak adil. Saya sangat tidak percaya jika dalam satu sekolah, kalau bisa saya
mengambil contoh 6 Madrasah aliyah di kabupaten Majene, tak satupun siswa yang
lulus UN tahun ini, tak seorangpun, saya tidak percaya kalau semua murid yang
ada di sekolah itu bodoh, tentu ada yang salah dalam sistim pendidikan
kita.
Kedua, kenapa Ujian
Nasional ini dilaksanakan; senang tidak senang, suka tidak suka, ini adalah
bentuk ketidak percayaan pusat kepada kita. Dan jika bicara tentang
ketidak-percayaan, kita dapat melihat fenomena belakangan ini. Seorang anak
yang ingin menyelesaikan Sekolah Dasarnya harus mengikuti ujian, ya dia harus
di tes, nah pada saat mau masuk ke SMP dia juga harus di tes, apa yang mau saya
katakan, pihak SMP tidak percaya hasil ujian sang anak sewaktu tamat SD,
buktinya harus di tes. Ingin menyelesaikan sekolahnya di SMP harus di tes, dan
masuk ke SMA harus di tes lagi, kenapa…pihak SMA tidak percaya hasil ujian sang
anak sewaktu di SMP. Begitu juga setelah di tes pada saat akan selesai di SMA, dan
hendak masuk perguruan tinggi, di tes lagi. Jelas pihak Perguruan tinggi tidak
percaya hasil ujian di SMA. Parahnya lagi setelah selesai ujian sarjana dan
ingin jadi pegawai negeri, harus di tes lagi, dan yang paling parah yang diuji
bukan saja kepintaran sang anak, tapi yang terpenting kemampuan ekonomi sang
anak, punya uang 40 juta apa tidak.
Lantaran
banyaknya yang tidak lulus jadi PNS, dan bingung menciptakan usaha sendiri,
bertambah banyaklah pengangguran. Begitu banyaknya pengangguran sehingga saya
menjadi khawatir, jangan-jangan untuk mendapatkan predikat pengangguran mereka
juga harus di tes.
Tidak saling percaya
di dunia pendidikan memang telah dibangun sejak anak-anak masih di SD.
Pertanyaannya siapa yang membangun, siapa yang menciptakan saling tidak percaya
ini. Jawabannya: tentunya kita semua, utamanyanya para bapak dan ibu yang
bergelut di dunia pendidikan, mulai dari kecamatan, kabupaten, propinsi hingga pusat;
maaf, ini harus saya katakan, sebagai ketua komite, saya sangat merasakan
keresahan para orangtua murid yang melihat sistim pendidikan kita.
Ketiga, kadang saya
berpikir, pelaksanaan Ujian Nasional ini hanyalah untuk kepentingan pusat. Ada
dua hal besar yang menjadi kepentingan pusat,
Yaitu
kepentingan bisnis dan politis. Saya katakan kepentingan bisnis, bapak-ibu bisa
lihat, jumlah lembaran soal, biasanya 4 hingga 8 lembar kertas ukuran A3
persoal, untuk tingkat SMP ada empat mata pelajaran dan tingkat SMA ada sekitar
6 mata pelajaran, kalau dihitung-hitung, rata-rata satu orang murid membutuhkan
24 lembar kertas A3.
Bapak dan ibu
bisa hitung sendiri, kalau ada satu juta siswa saja yang ikut UN SMP/SMA tahun
ini, dan keuntungan satu lembar 100 rupiah saja, maka 1 juta siswa dikali 24
lembar dikali 100 rupiah, angka yang diperoleh cukup fantastis, sekitar 2,4
milyar, itu Cuma keuntungan dari percetakan kertas soal saja. Belum dari
anggaran lainnya yang melekat pada proyek UN ini.
Untuk
kepentingan politis, bisa saja, di Indonesia tingkat pengangguran dari tahun
ketahun semakin meningkat, nah untuk menghambat kenaikan prosentase pengangguran
inilah, salah satu caranya dengan menghambat kelulusan siswa, utamanya yang di
SMA, kalau mereka lulus, pasti sebagian besar akan menganggur, dengan berbagai
alasan tentunya. Orang berfikir, pasti pemerintah berhasil menyiapkan lapangan
pekerjaan, padahal…apa…memang hanya yang sedikit yang lulus, sehingga sedikit
juga angka pengangguran yang tercipta.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita
semua hanyalah korban kebijakan pemerintah pusat yang tidak berpihak dan tidak
mau tahu kondisi dunia pendidikan di daerah.
Bapak ibu, hadirin yang saya hormati,
Jika ujian nasional dijadikan ukuran untuk
menentukan tingkat kompetensi suatu sekolah, menurut saya oke-oke saja, Ujian Nasional
sebaiknya hanya untuk menjadi bahan evaluasi perkembangan pendidikan suatu
sekolah, sebagai bahan evaluasi untuk untuk mengukur tingkat kompentensi para
guru, menjadi bahan evaluasi tingkat kemampuan manejerial para kepala sekolah,
itu boleh saja
Namun bukan
untuk menentukan lulus tidaknya seorang murid. Bagaimana bisa, selama tiga
tahun seorang siswa menimba ilmu disekolah, nasibnya hanya ditentukan dalam waktu
tiga hari saja. Hebatnya lagi, oleh orang, pembuat soal yang tidak kita kenal
dan tidak mengenal tingkat kecerdasan, phisologi dan etika sang anak. Dan sama
sekali tidak menghargai jerih payah para guru yang membinanya selama tiga tahun. Anak-anak hanya dijadikan
objek dari satu kepentingan, yang sama sekali tidak mereka ketahui. Sungguh
kasihan
Seharusnya
ujian nasional menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja, satu proses dalam belajar
mengajar, layaknya ujian harian. Namun apa yang kita saksikan, UN dirancang
sedemikian rupa, hingga menjadi suatu hal yang paling menakutkan, bukan saja
oleh para murid, bahkan bagi para guru dan orang tua murid. Adanya tim
independen, para petugas keamanan dan petinggi-petinggi kabupaten yang
berdatangan, sebenarnya bukan untuk kelancaran dan keamanan ujian, tapi adalah
bentuk ketidak percayaan kepada para guru dan pengawas ujian itu sendiri, dan
mungkin saja hanya untuk kepentingan SPPD.
Bapak
camat…dan hadirin sekalian yang saya muliakan
Hampir 5 tahun saya menjadi ketua
komite di smp 1 sendana ini, sudah dua kali saya mengajukan usul untuk
penggantian, namun sampai saat ini belum ditanggapi, mungkin masih dibutuhkan.
Dalam kurun waktu 5 tahun ini, tentunya banyak hal yang bisa saya pelajari dan
saya amati disekolah ini, banyak suka dan sedikit dukanya.
Banyak
perkembangan di sekolah ini, baik sarana, prasarana, kemampuan para guru yang
semakin baik, begitu juga dengan kepemimpinan bapak kepala sekolah yang saya
nilai cukup arif dan bijaksana, menanggapi berbagai persoalan; tentu ada saja
riak-riak kecil, konflik antar guru maupun antara guru dengan kepala sekolah,
namun saya menilainya masih dalam ambang batas kewajaran dan sebagai bentuk dinamika
dalam satu organisasi.
Dukanya, terkadang
saya menangis dalam hati dan merasa sangat heran jika ada seorang guru
menghukum kenakalan seorang siswa atau siswi secara fisik, ada-ada saja alasan
pembenarannya, namun hal ini, menurut saya, menunjukkan ketidakmampuan sang guru itu sendiri atau model guidance dan
counceling yang tidak berjalan semestinya, penyebabnya barangkali sistim sanksi
sekolah yang belum dijalankan sebagaimana mestinya.
Saya pernah
mengajar selama 3 tahun lebih di sekolah ini, walau saya tidak pernah
mempelajari dasar-dasar pelajaran menjadi seorang guru, namun saya berpendapat,
seorang guru, seharusnya menjadi seorang fasilitator bagi muridnya, penuntun dan
pengarah bagi siswa dalam proses belajar mengajar, dan pembentuk budi pekerti
sang murid, menjadi seorang sahabat untuk berbagi cerita dan memberi nasehat bagi
anak muridnya yang bermasalah atau yang membuat masalah. Dan selama lebih tiga tahun menjadi guru, tak
pernah sedikitpun saya berpikir, bahwa saya bisa menentukan berhasil, tidaknya
seorang murid, dan tentunya saya juga berharap para guru lainnya, jangan sampai
mempunyai pikiran yang demikian itu.
Saya teringat perkataan seorang filsuf
cina, Lao tze, dia berkata:
Datanglah disuatu tempat
Berbaurlah dengan mereka ditempat itu
Berbicaralah dengan mereka
Ajaklah mereka kearah yang lebih baik
Dan jika suatu saat nanti
Mereka menjadi baik
Jangan pernah berpikir
Mereka baik karena kehadiranmu
Mereka menjadi baik
Karena mereka menghendaki kebaikan
itu.
Untuk anak-anakku yang lulus nanti, harapan
saya, kiranya melanjutkan sekolahnya, jika tidak bisa kesekolah favorit, masih
banyak sekolah lain yang mau menerimamu.
Bagi yang belum lulus nanti, harapan
saya, bersabarlah dan persiapkan diri kalian untuk ujian ulangan, dan semoga
saja berhasil nanti, kami semua mendoakanmu.
Bagi bapak ibu, orang tua murid,
harapan saya dapatlah kiranya memberikan motivasi dan dukungan terus menerus
kepada anak-anaknya untuk melanjutkan sekolahnya, dan saya sangat mengerti,
jika bagi sebagian orang tua murid, melanjutkan sekolah sang anak adalah beban
yang sangat sulit, tetaplah berusaha demi anak-anak kita.
Dan kepada bapak dan ibu guru, Harapan
saya tetaplah terus meningkatkan kompetensi, komitmen, dan dedikasinya serta
memberikan yang terbaik untuk perkembangan murid dan sekolah ini. Utamanya yang
telah memperoleh sertifikasi guru, karena saya belum melihat upaya kearah itu,
maaf.
Harapan saya kepada Bapak Kepala
Sekolah, tetaplah arif, bijaksana dan lebih meningkatkan koordinasi, komunikasi
dengan para guru lainnya dalam masalah apapun demi kemajuan sekolah ini, yang
tidak dalam waktu lama lagi akan bapak tinggalkan.
(nanti sama2 kita tinggalkan)
Hadirin yang saya hormati,
Begitu banyak
harapan-harapan yang saya sampaikan pada saat ini, namun saya berharap,
harapan-harapan itu tidaklah menjadi suatu beban atau menjadi suatu
ketersinggungan, saya berharap harapan-harapan ini akan menjadi motivasi bagi
kita semua, pendorong semangat untuk
berbuat lebih baik dan semakin baik bagi sekolah ini, bagi bangsa dan bagi negara
tercinta.
Akhirnya saya
mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada panitia pelaksana kegiatan ini, kepada
bapak dan ibu guru serta bapak kepala sekolah yang telah mempersiapkan acara
ini sebaik mungkin, terimakasih juga kepada para undangan, khususnya bapak
Camat sendana dan orangtua murid yang telah meluangkan waktu berharganya untuk
menghadiri acara ini.
Dan dengan segala kerendahan
hati, saya mohon maaf, dan dimaafkan, jika dalam sambutan saya ini, terdapat
kata-kata yang kurang berkenan di hati bapak dan ibu sekalian.
Jika ada jarum yang patah,
belilah jarum yang lain
Masih banyak di warung
sebelah.
Terima
kasih
Fastabiqul
khairat
Wassalamualaikum
warahmatulahi wabarakatu.
Tulisan yang hebat...
ReplyDeleteKunjungan balik yach...
http://kacocicci.blogspot.com/